Selasa, 20 April 2010

PELATIHAN PERSONNEL TNI AD

Nama : Ermalia Windasari

Kelas : 3DB01

NPM : 32107146

Materi : Pelatihan Personnel

PELATIHAN PERSONNEL TNI AD

Setelah bangsa Indonesia mengakhiri masa perjuangan fisik bersenjata, semakin dirasakan kebutuhan adanya angkatan perang yang kuat dan modern guna mempertahankan kedaulatan dan menegakkan cita-cita kemerdekaan.

Atas dasar pemikiran strategis tersebut maka melalui surat keputusan Kasad Nomor : 44/KSAD/KPTS/51 Tanggal 17 Maret 1951, dibentuk suatu Komisi Perencana Pendidikan Angkatan Darat yang bertugas mengkoordinasikan pelaksanaan itu diseluruh lembaga pendidikan Angkatan Darat. Mengikuti perkembangan yang terjadi, nama SSKAD berubah menjadi Seskoad sejak Tanggal 2 Januari 1961 s.d. sekarang, dengan tidak mengubah peranan serta fungsi Seskoad, baik sebagai lembaga pendidikan tertinggi di lingkungan TNI AD maupun sebagai lembaga pengkajian.

Berdasarkan keputusan KSAD Nomor : 95/KSAD/KPTS/1951 pada Tanggal 25 Mei 1951 sebagai komandan SSKAD pertama ditugasi Letkol Maryadi yang pada waktu itu menjabat juga sebagai Komandan Korps MBAD, dengan menempati gedung kuliah di Cililitan Jakarta.

Selanjutnya sejak Tanggal 17 Pebruari 1953, Presiden RI Ir Soekarno meresmikan gedung SSKAD dengan nama “Grha Wiyata Yudha” beralamat di jalan Papandayan yang sekarang jalan Gatot Subroto No. 96 Bandung.

Tugas pokok SSKAD mendidik para perwira TNI AD, yang akan diarahkan untuk menduduki jabatan staf umum dan komando Satuan operasional tingkat komando, serta tingkat resimen tim pertempuran ke atas.

Periode 1951 – 1958.

Kursus SSKAD angkatan pertama dibuka pada Tanggal 17 November 1951 oleh wakil Presiden Republik Indonesia drs. Moch. Hatta dengan peserta 26 orang siswa berpangkat kapten dan mayor. Dalam kurikulum SSKAD ada dua jenis pendidikan yaitu kursus taraf I dan II namun pada periode ini kursus taraf I baru dapat dilaksanakan.

Tugas dan fungsi SSKAD belum mantap dan masih mencari bentuk, program pendidikan yang dilaksanakan masih bersifat peralihan, jenis kurikulum yang diberikan meliputi : kursus ilmu perang, kursus komandan resimen tim pertempuran, kursus persamaan Danyon dan kursus lain-lain yang bersifat gabungan kecabangan dan dinas.

Komandan SSKAD pada periode ini adalah Letkol Inf Maryadi, Letkol Inf AJ. Mokoginta dan Kolonel Latief Hendraningrat.

Periode 1958 – 1961.

Situasi politik nasional pada periode ini membuat masalah sospol menjadi perhatian dari pimpinan TNI AD sejalan dengan perkembangan organisasi angkatan bersenjata dan situasi politik nasional, maka sejak tahun 1959 tugas dan fungsi SSKAD diperluas dan diberi tugas tambahan menyelenggarakan kursus orientasi masalah pertahanan, dengan peserta kursus terdiri dari para perwira TNI AD dan angkatan lain serta para pejabat lingkungan departemen dan instansi non militer.

Pada periode ini, untuk pertama kalinya diadakan seminar yang membahas masalah pertahanan I, serta perubahan nama SSKAD menjadi Seskoad yang tetap digunakan sampai dengan sekarang. Komandan Seskoad pada periode ini adalah Kolonel Inf Latief Hendraningrat dan Kolonel Inf Suadi Suromihardjo.

Periode 1961 – 1973.

Periode ini ditandai dengan berbagai peristiwa politik yang berskala nasional, regional maupun internasional yang melibatkan ABRI/TNI AD. Mengantisipasi hal ini, Seskoad melakukan berbagai seminar untuk kepentingan ABRI dan nasional. Setelah peristiwa G. 30 S/PKI pada tahun 1966, Seskoad mengadakan seminar Angkatan Darat II. Seminar ini merupakan tonggak sejarah bagi pengabdian TNI AD dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab selain menghasilkan doktrin perjuangan AD Tri Ubaya Cakti, seminar ini berhasil mewujudkan strategi idealisme antar komponen orde baru di dalam dan di luar TNI AD untuk memperjuangkan dimulainya era pembangunan nasional. Hasil seminar Angkatan Darat II ini kemudian diakui sebagai sumber pokok kebijaksanaan pemerintah orde baru, terutama di bidang sosial politik dan ekonomi.

Sejak tahun 1964 Seskoad telah menerima pasis dari mancanegara, sementara itu banyak perwira alumni Seskoad yang melakukan studi perbandingan di negara-negara sahabat. Pada masa komandan Seskoad Mayjen TNI Soetanto pada tahun 1972 atas prestasinya, Seskoad dianugerahi P arasamnya Purna Karya Nugraha oleh bapak Presiden RI.Para komandan Seskoad pada periode ini ialah Brigjen TNI Soedirman, Mayjen TNI soewarto (digelari bapak Seskoad), Mayjen TNI S. Tjakradipura dan Mayjen TNI Soetanto W.

Periode 1974 – 1984.

Dalam rangka reorganisasi integrasi ABRI, maka sejak tahun 1974, berdasarkan keputusan Menhankam/Pangab Nomor : Kep/A/VII/1974, lembaga pendidikan Sesko Angkatan/Polri, bernaung di bawah pengendalian sesko ABRI yaitu pendidikan tahap I tingkat Angkatan/Polri lingkup kematraan; sedangkan tahap II (lanjutan) dilaksanakan di Seskogab dengan lingkup materi antar matra dan antar angkatan (gabungan). Selama periode ini telah berhasil dididik 12 angkatan, Susreg Seskoad Angkatan I s.d. XII.

Sesuai dengan kebutuhan, sejak tahun 1982 Seskoad menyelenggarakan pula Sumin (Kursus Staf Umum Administrasi) sebanyak 7 angkatan yang berlangsung hingga tahun 1988 dan dilaksanakan pula Kursus Staf Umum Jurusan Tehnik (Sumin), sebanyak 4 angkatan. Memasuki tahun 1988 SunikK dan Sumin dihapuskan dan pendidikan dikembalikan pada satu jurusan yakni Susreg Seskoad.

Dalam rangka memantapkan integritas ABRI sejak tahun 1974 hingga sekarang, dilaksanakan pula Program Kegiatan Bersama (PKB) antar sesko angkatan dan Polri, guna mengkaji masalah-masalah operasi gabungan, nilai kejuangan dan olah raga bersama. Komandan Seskoad pada periode ini ialah : Brigjen TNI Yogi Supardi, Brigjen TNI E.W.P Tambunan, Mayjen TNI Bambang Triantoro dan Mayjen TNI Sumitro.

Periode 1984 – 1998.

Selama dekade 80-an, organisasi Seskoad mengalami dua kali perubahan. Pertama , Pada tahun 1985 sebagai tindak lanjut dari organisasi TNI AD, maka berdasarkan keputusan Kasad, Seskoad berada di bawah pembinaan Kasad. Kedua , sesuai keputusan Kasad Nomor : kep/14/ii/1989 Tanggal 21 Pebruari 1989 yang berlaku hingga saat kini, struktur organisasi Seskoad ditetapkan dengan unsur pembantu pimpinan terdiri dari 3 staf direktur, staf ahli, dewan dosen, dewan akademik dan pok pembantu sendiri. Sedangkan penanggung jawab pembina materi akademik dilaksanakan oleh 9 departemen. Sejak tahun 1984 pada tiap tahun ajaran dilakukan survei sosial di daerah tk. I oleh perwira siswa (pasis) dan dosen guna mengkaji masalah pembangunan. Tahun 1996 Seskoad mengadakan seminar TNI AD V yang hasilnya merupakan kerangka acuan GBHN bidang politik. komandan Seskoad pada periode ini ialah Mayjen TNI Theo Soemantri, Mayjen TNI Darwanto, Letjen TNI Feisal Tanjung, Mayjen TNI Herman Musakabe, Mayjen TNI E.E. Mangindaan dan Mayjen TNI Arifin Tarigan.

Periode 1998 – sekarang.

Dengan bergantinya kabinet orde baru kepada kabinet reformasi, Seskoad segera melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan paradigma baru peran TNI untuk mendukung terciptanya reformasi yang konstitusional melalui berbagai diskusi dan kajian-kajian untuk dijadikan sebagai bahan masukan bagi pimpinan TNI.

Komandan Seskoad pada periode ini adalah Mayjen TNI Afandi, Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah, Mayjen TNI Djoko Besariman, MM, Mayjen TNI Bibit Waluyo, Mayjen TNI Suadi Atma, S.Ip, Mayjen TNI William T. Da Costa, Mayjen TNI Syarifudin Tippe, S.Ip, M.Si. dan yang sekarang adalah Mayjen TNI Mochammad Sochib, S.E., M.B.A.

PROGRAM PELATIHAN

Nama : Ermalia Windasari

Kelas : 3DB01

NPM : 32107146

Materi : Pelatihan Personnel

PROGRAM PELATIHAN

PRINSIP :

Program pelatihan sebaiknya dirancang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kelompok sasaran

LANGKAH-LANGKAH :

1.Lakukan penilaian kebutuhan pelatihan (Training Needs Assessment=TNA) bagi petugas data dan pengguna data. Ada 4 type pelatihan yang biasanya dilaksanakan :

  • Pelatihan untuk Pelatih
  • Pelatihan bagi petugas data di tingkat perifer tentang bagaimana mengisi formulir dengan benar.
  • Pelatihan bagi operator komputer dalam menggunakan software dan hardware.
  • Pelatihan bagi staf pada berbagai tingkatan mengenai penggunaan data.

Penilaian kebutuhan pelatihan juga harus dilakukan untuk setiap tipe pelatihan. Beberapa variabel yang perlu dikumpulkan pada saat penilaian kebutuhan pelatihan meliputi :

  • Fungsi dasar dari setiap staf (TUPOKSI) terkait dengan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan.
  • Peningkatan pelatihan yang telah diperolehsesuai dengan kinerja masing-masing.
  • Kapan pelatihan sebelumnya dilaksanakan
  • Apakah pelatihan sebelumnya telah mampu meningkatkan kapasitas staf menjalankan fungsi yang diharapkan
  • Jenis pelatihan yang dibutuhan

2. Mengembangkan kurikulum untuk setiap tipe pelatihan berdasarkan hasil penilaian kebutuhan pelatihan. Beberapa aspek yang tercakup :

  • Kelompok sasaran (untuk siapa?)
  • Isi (apa?)
  • Strategi (Bagaimana?)
  • Durasi (Berapa lama?)- Hal ini terkait dengan durasi total program pelatihan serta alokasi waktu untuk setiap topik pelatihan. Hasil dari tahap ini adalah silabus pelatihan untuk masing-masing program pelatihan yang dilaksanakan.

3. Mengembangkan Materi Pelatihan. Beberapa materi pelatihan yang dianjurkan :

  • Pelatihan bagi petugas data ;materi :kamus data ;Isi :daftar indikator, rumus, definisi, sumber data, & petunjuk pengisian format.
  • Pelatihan bagi pengguna data ; materi : panduan untuk pengguna data (berbeda untuk setiap tingkatan); Isi : analisis data, interpretasi, dan penggunaan.
  • Pelatihan bagi Operator komputer ; materi : panduan penggunaan software ; Isi : petunjuk yang jelas (dilengkapi dengan contoh) bagaimana penggunaan software ; permasalahan.
  • Pelatihan untuk pelatih ; materi :panduan bagi pelatih ; Isi: petunjuk bagaimana melaksanakan pelatihan program bagi petugas data dan pemngguna data, strategi pengajaran, petunjuk penggunaan buku panduan bagi pengguna data dan petugas data.

4. Reproduksi materi pelatihan. Karena ada kemungkinan modifikasi format, struktur dan isi materi pelatihan berdasarkan evaluasi sebelumnya, oleh karena bahan materi yang akan dicetak kembali perlu diperhitungkan.

5. Merancang model evaluasi pelatihan. Langkah ini sangat penting karena sebagian besar evaluasi memerlukan data dasar tentang pengetahuan peserta sebelum pelatihan.

6. Identifikasi peserta yang tepat untuk masing-masing jenis pelatihan berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya dalam mengumpulkan, mengelola dan menggunakan data. Salah satu strategi yang efisien adalah mengidentifikasi dan melatih materi utama kepada staf yang dapat berperan sebagai trainer untuk wilayah di sekitarnya. Jika strategi ini dipilih, perlu mempertimbangkan distribusi geografis peserta pelatihan untuk Training of Trainer.

7. Lakukan pelatihan bagi petugas data

8. Lakukan pelatihan bagi pengguna data. Hal ini biasanya dilakukan setelah tersedia cukup data agar dapat digunakan pada saat pelatihan.

9. Evaluasi program pelatihan termasuk materi pelatihan yang digunakan.

10.Modifikasi materi pelatihan dan program pelatihan berdasarkan hasil evaluasi. Hal ini harus sudah dilakukan sebelum melakukan melangsungkan pelatihan berikutnya.

ISSU :

  1. Pemilihan peserta yang tepat bagi program pelatihan yang berbeda-beda.Identifikasi latar belakang staf yang akan mendapat pelatihan.
  2. Bahasa yang digunakan pada materi pelatihan
  3. Penyebarluasan materi dan buku panduan.
  4. Fasilitas yang tepat untuk pelaksanaan pelatihan.

Evaluasi Program Pelatihan

Kegiatan evaluasi program pelatihan tidak hanya dilaksanakan pada akhir kegiatan program, tetapi sebaiknya dilakukan sejak awal, yaitu mulai dari penyusunan rancangnan program pelatihan, pelaksanaan program pelatahan dan hasil dari pelatihan. Penilaian hasil pelatihan tidak cukup hanya pada hasil jangka pendek (output) tetapi dapat menjangkau hasil dalam jangka panjang (outcome and impact program). Ada berbagai macam model evaluasi program yang dapat dipilih untuk mengevaluasi program pelatihan. Model mana yang akan digunakan tergantung pada tujuan maupun kemampuan evaluator. Siapapun yang ditunjuk menjadi evaluator, agar hasil evaluasi dapat maksimal maka kompetensi evaluator harus dipertimbangkan. Kompetensi evaluator meliputi kompetensi manajerial, kompetensi teknis, kompetensi konseptual dan kompetensi bidang studi.

Pendahuluan

Dalam manajemen SDM terdapat beberapa fungsi pokok, dan fungsi evaluasi merupakan salah satu di antaranya, selain perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan. Program pelatihan sebagai salah strategi pengembangan SDM memerlukan fungsi evaluasi untuk mengetahui efektivitas program yang bersangkutan. Pada umumnya orang beranggapan bahwa evaluasi program pelatihan diadakan pada akhir ahir pelaksanaan pelatihan. Anggapan yang demikian adalah kurang tepat, karena evaluasi merupakan salah satu mata rantai dalam sistem pelatihan yang jika dilihat dari waktu pelaksanaannya kegiatan penilaian dapat berada di awal proses perencanaan, di tengah proses pelaksanaan dan pada akhir penyelenggaraan pelatihan dan pasca kegiatan pelatihan. Penilaian yang dilaksanakan pada proses perencanaan disebut dengan analis kebutuhan (need assessment) yang berusaha untuk mengumpulkan informasi tentang kemampuan, ketrampilan maupun keahlian yang akan dikembangkan dalam pelatihan, karakteristik peserta pelatihan, kualitas materi pelatihan dilihat dari relevansi dan kebaharuan, kompetensi pelatih/instruktur/pengajar, tempat pelatihan beserta sarana dan prasarana yang dibutuhkan, akomodasi dan konsumsi serta jadwal kegiatan pelatihan. Penilaian yang dilaksanakan pada saat proses pelatihan disebut dengan monitoring yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang sejauh mana program yang telah disusun dapat diimplementasikan dengan baik. Dalam kegiatan monitoring ini berusaha untuk menilai kualitas proses pelatihan, baik dari aspek kinerja instruktur, iklim kelas, sikap dan motivasi belajar atau berlatih para peserta pelatihan. Sedangkan penilaian pasca pelatihan bertujuan untuk mengetahui perubahan kinerja peserta setelah kembali ke tempat kerjanya masing-masing.

Bentuk Evaluasi Training

Model ROTI (Return On Training Investment) yang dikembangkan oleh Jack Phillips merupakan level evaluasi terakhir untuk melihat cost-benefit setelah pelatihan dilaksanakan. Kegunaan model ini agar pihak manajemen perusahaan melihat pelatihan bukan sesuatu yang mahal dan hanya merugikan pihak keuangan, akan tetapi pelatihan merupakan suatu investasi. Sehingga dapat dilihat dengan menggunakan hitungan yang akurat keuntungan yang dapat diperoleh setelah melaksanakan pelatihan, dan hal ini tentunya dapat memberikan gambaran lebih luas, apabila ternyata dari hasil yang diperoleh ditemukan bahwa pelatihan tersebut tidak memberikan keuntungan baik bagi peserta maupun bagi perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa model evaluasi ini merupakan tambahan dari model evaluasi Kirkpatrick yaitu adanya level ROTI (Return On Training Investment), pada level ini ingin melihat keberhasilan dari suatu program pelatihan dengan melihat dari Cost- Benefit-nya, sehingga memerlukan data yang tidak sedikit dan harus akurat untuk menunjang hasil dari evaluasi pelatihan yang valid.Penerapan model evaluasi empat level dari Kirkpatrick dalam pelatihan dapat diuraikan dengan persyaratan yang diperlukan sebagai berikut :

Level 1: Reaksi

Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Komponen-komponen tersebut indikatornya adalah:

1. Instruktur/ pelatih. Dalam komponen ini terdapat hal yang lebih spesifik lagi yang dapat diukur, disebut juga dengan indikator. Indikator-indikatornya adalah kesesuaian keahlian pelatih dengan bidang materi, kemampuan komunikasi dan keterampilan pelatih dalam mengikutsertakan peserta pelatihan untuk berpartisipasi.

2. Fasilitas pelatihan. Dalam komponen ini, yang termasuk dalam indikator-indikatornya adalah ruang kelas, pengaturan suhu di dalam ruangan dan bahan dan alat yang digunakan.

3. Jadwal pelatihan. Yang termasuk indikator-indikator dalam komponen ini adalah ketepatan waktu dan kesesuaian waktu dengan peserta pelatihan, atasan para peserta dan kondisi belajar.

4. Media pelatihan. Dalam komponen ini, indikator-indikatornya adalah kesesuaian media dengan bidang materi yang akan diajarkan yang mampu berkomunikasi dengan peserta dan menyokong instruktur/ pelatihan dalam memberikan materi pelatihan.

5. Materi Pelatihan. Yang termasuk indikator dalam komponen ini adalah kesesuaian materi dengan tujuan pelatihan, kesesuaian materi dengan topik pelatihan yang diselenggarakan.

6. Konsumsi selama pelatihan berlangsung. Yang termasuk indikator di dalamnya adalah jumlah dan kualitas dari makanan tersebut.

7. Pemberian latihan atau tugas. Indikatornya adalah peserta diberikan soal.

8. Studi kasus. Indikatornya adalah memberikan kasus kepada peserta untuk dipecahkan.

9. Handouts. Dalam komponen ini indikatornya adalah berapa jumlah handouts yang diperoleh, apakah membantu atau tidak.

Level 2: Pembelajaran

Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan.

Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan. Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan. Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.

Level 3: Perilaku

Pada level ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta (karyawan) dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.

Level 4: Hasil

Mengukur hasil dari training terhadap keuntungan perusahaan (profitability), produktifitas, kualitas kerja, penjualan, turnover dan pengeluaran (expenses), hanya sekitar 7% organisasi yang menerapkan cara ini. Reaksi, didefinisikan sebagai bagaimana tanggapan peserta terhadap program training tersebut. Pembelajaran, suatu tingkatan dimana peserta secara tertulis diuji untuk dapat mengetahui sejauh mana materi training telah diterima oleh mereka. Perilaku, ditujukan untuk mengukur perubahan sikap kerja dalam kegiatan sehari-hari. Hasil digunakan untuk mengetahui seberapa besar program pelatihan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Hasil akhir tersebut meliputi, peningkatan hasil produksi dan kualitas, penurunan harga, peningkatan penjualan. Tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan kepada perusahaan sebagai pihak yang berkepentingan. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata bagi perusahan dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil. Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki.

Nama : Ermalia Windasari

Kelas : 3DB01

NPM : 32107146

Materi : Pelatihan Personnel

PROGRAM PELATIHAN (TRAINING)

PENDAHULUAN

Dalam mengantisipasi pasar global di masa mendatang akan banyak masuk ke Indonesia antara lain : pertama, staf peneliti maupun teknisi di bidang penelitian dan pelayanan kedokteran/kesehatan, dan kedua, teknologi mutakhir untuk menunjang penelitian dan pelayanan kedokteran/kesehatan.

Di Indonesia, kondisi sumber daya manusia (SDM) di bidang penelitian dan pelayanan kedokteran/kesehatan kualitasnya belum memadai dibandingkan dengan kecepatan perkembangan IPTEK, disamping itu terbatasnya pusat-pusat pengembangan yang ada di Perguruan Tinggi dalam menunjang peningkatan kualitas SDM di atas.

Lembaga Penyakit Tropis (Institute of Tropical Disease) Universitas Airlangga mempunyai fasilitas dan kemampuan yang mencukupi dalam penelitian bidang kesehatan maupun diagnostik molekuler serta mempunyai kerjasama dengan pusat penelitian di dalam dan luar negeri.Pelatihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ketrampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek dari pada teori.

Pelatihan merupakan salah satu program kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyakit Tropis (ITD) secara rutin setiap tahun. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di Lembaga Penyakit Tropis adalah Pelatihan Metodologi Laboratorium untuk membantu diagnosis penyakit-penyakit infeksi seperti : Malaria, Parasit Usus, Hepatitis, DBD/DHF, Avian Influenza, Diare Kronik, TB, Lepra; DNA Paternity; dan Stem cell baik berupa kursus singkat (short-term courses) maupun magang (long-term courses).

TUJUAN PROGRAM

1.Meningkatkan kemampuan ketrampilan (Skill) peneliti dan teknisi di bidang penelitian dan pelayanan kedokteran/kesehatan dalam mengaplikasikan teknologi mutakhir.

2.Meningkatkan pengetahuan peneliti dan teknisi yang mendasari atau menunjang teknologi mutakhir.

SASARAN PROGRAM

1.Staf peneliti di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, serta Balitbang Departemen terkait.

2.Staf pengajar (dosen) Fakultas Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, MIPA Biologi, Kedokteran Hewan di PTN dan PTS

3.Teknisi / Analis laboratorium di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, serta Pusat Pelayanan Kesehatan.

MACAM PROGRAM

1. Ditinjau dari jenis pelatihan/kursus, meliputi :

a) Pelatihan Ilmu Dasar (basic course)

b) Pelatihan Ilmu Terapan (applied course)

2. Ditinjau dari lama pelaksanaan pelatihan/kursus, meliputi :

a) Kursus singkat (short-term courses)

b) Kursus jangka panjang / Magang (long-term courses)

3. Ditinjau dari materi

a) Pelatihan untuk mengelola teknologi mutakhir (yaitu teknik pemeriksaan laboratorium), seperti :

PCR (Polymerase Chain Reaction)

ELISA (Enzyme-Linked Immunoabsorbent Assay)

Kultivasi

Stem cell

Acridine Orange (AO)

Giemsa

b) Pelatihan untuk menerapkan teknologi mutakhir di bidang :

Penyakit Hepatitis

Penyakit Malaria

Penyakit Demam Dengue/DHF

Penyakit Diare

Penyakit Avian Influenza

Penyakit Lepra

Penyakit TB

Penyakit tropis lainnya

METODE

      • Teori : Klasikal di kelas
  • Praktek : di laboratorium / di lapangan

Program Pelatihan V3GO

Nama : Ermalia Windasari

Kelas : 3DB01

NPM : 32107146

Materi : Pelatihan Personnel (Teknik dan alat bantu pelatihan )

Program Pelatihan V3GO

Hanya dalam 4 hari, anda akan mengalami suatu perubahan paradigma yang sangat besar. Anda akan tergabung ke dalam 1% orang yang meraup keuntungan dari bursa finansial.Program Pelatihan V3Go bukanlah program untuk orang-orang penakut, tapi ini diperlukan oleh siapapun yang serius ingin mendapatkan penghasilan dari bursa finansial secara konsisten.

Selama 4 hari pelatihan, para peserta akan mempelajari bermacam-macam alat analisa teknik berdasarkan psikologi pasar dan pergerakan harga. Dengan alat bantu ini para peserta dapat dengan mudah mendapatkan keuntungan dari transaksinya, baik itu Saham, Surat Garansi, Berjangka, Forex atau Komoditas.

Tehnik ini hanya menggunakan indikator umum, sehingga tidak memerlukan software khusus. Namun, penafsiran dari alat bantu analisa tehnik ini sangat efektif. Bahkan, seseorang yang masih baru dalam perdagangan bursa sekalipun dapat segera menerapkan tehnik ini dan dengan mudah mendapatkan keuntungan.

Pelatihan V3Go sangat praktis. V3Go menggunakan pendekatan langsung dalam mengajarkan tehnik perdagangan dan sangat menekankan pada aplikasi tehnik ‘live markets’. Dengan demikian, setiap bagian pelatihan akan disertai dengan contoh dan simulasi praktek. Para peserta juga memiliki satu hari penuh ‘LIVE market’ untuk menerapkan semua hal yang mereka telah pelajari. Dengan demikian, mereka akan mampu memahami konsep yang benar-benar berhasil digunakan pada waktu nyata (real-time trading). Selain itu, para pelatih akan melakukan transaksi perdagangan secara langsung di depan para peserta. Ini akan memperkuat fakta bahwa mereka benar-benar berpegang pada tehnik mereka sendiri, menggunakannya, serta meraih keuntungan dari transaksi.

Ketenangan dan dukungan sangat menentukan keberhasilan seorang pedagang bursa. Dan oleh karena kami berkomitmen untuk memberikan dukungan dan paket penasihat yang menyeluruh, maka kami menjadwalkan sesi pelatihan lanjutan bagi para peserta melalui ‘Yahoo conference’. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mengklarifikasi semua keraguan mereka dan memastikan bahwa mereka dapat dengan tepat menerapkan semua teori dalam perdagangan bursa.

Ringkasan Pelatihan

Hari 1:

Psikologi Pasar dan Teori Hole-Peak

Kita akan mempelajari mitos dan realita dari bursa finansial. Di mulai dari dasar-dasar perdagangan hingga kerumitan para pedagang yang menggunakan produk berjangka untuk mengamankan (hedging) uang mereka. Dan juga akan menjelaskan mengapa para pedagang kecil selalu menutup transaksi perdagangan mereka, sedangkan para pedagang besar selalu meraih keuntungan dari transaksi perdagangan mereka .

Teori Hole-Peak mempersingkat penjelasan ini, merubahnya menjadi tehnik analisa yang mudah diterapkan, serta membentuk dasar dari tehnik-tehnik lain yang diajarkan dalam pelatihan.

Hari 2:

Tehnik V3Go

Dengan belajar memahami psikologi manusia dan bursa, Anda dapat berdagang tanpa menggunakan grafik. Selanjutnya,akan memperkenalkan sistem V3Go dan beberapa indikator tertentu, serta menggunakannya dengan cara yang tidak lazim. Untuk memberikan Anda konsistensi dalam perdagangan, kami akan menunjukkan kepada Anda bagaimana caranya membaca grafik, yang tentunya berbeda dari biasanya.

Dan juga akan menunjukkan rahasia bagaimana para pedagang professional saling bersaing satu sama lain untuk mendapatkan keuntungan. Selain itu, kami juga akan menunjukkan bagaimana cara menggunakan SIMSCI untuk memprediksi kemungkinan pembukaan harga pada Bursa Amerika Serikat.

Hari 3:

TSC dan Indikator-indikator

Kami akan menunjukkan bagaimana menggambar garis harga yang paling kuat di grafik dengan cara yang sangat praktis, namun unik. Selain itu, kami juga akan menunjukkan kepada Anda bagaimana cara menggambar K-Wave, untuk meramalkan tingkatan ‘support & resistance’ pada bursa. Kemudian, kami juga mengajarkan bagaimana membuat rencana untuk menghadapi setiap hari perdagangan, dengan manajemen keuangan dan emosi yang tepat.

Hari 4:

Live Trading

Dari jam 7 pagi dst., kami akan memperlihatkan bagaimana mengaplikasikan semua tehnik bersama-sama secara live & real time, dan bagaimana seseorang membuat rencana transaksi untuk satu hari perdagangan. Kami juga akan mempertunjukkan bagaimana tehnik-tehnik ini berhasil dalam bursa yang berbeda-beda, baik itu Saham, Berjangka, Forex ataupun Komoditas. Pada ‘Live Trading’, para pelatih akan secara pribadi melakukan transaksi jual atau beli berdasarkan tehnik yang mereka ajarkan.

Setelah Pelatihan

Dengan adanya sesi bantuan setelah pelatihan, Anda akan memiliki kesempatan langsung untuk mengklarifikasi semua keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari aplikasi perdagangan sehari-hari. Kami juga mengadakan konferensi harian sehingga semua pertanyaan Anda dapat langsung kami jawab secara LIVE.

Nama : Ermalia Windasari

Kelas : 3DB01

NPM : 32107146

Materi : Pelatihan Personnel (Teknik dan alat bantu pelatihan )

Penangganan Scoliosis

Ada tiga macam kategori penanganan penderita Scoliosis yang didasarkan tergantung dari derajatnya:

  1. Scoliosis ringan : cukup diterapi dengan Latihan , Massage dan Modalitas
  2. Scoliosis sedang : selain Latihan, Massage dan Modalitas dianjurkan memakai Spinal Brace
  3. Scoliosis berat : umumnya tidak dapat diatasi dengan latihan, massage, modalitas dan spinal brace, pada situasi ini penderita memerlukan Operasi

Tanpa Operasi

Penangganan Scoliosis dengan Latihan

Penangganan Scoliosis dengan latihan pada prinsipnya harus mengandung 3 unsur DEF yaitu Derotasi, Elongasi dan Fleksibilitas. Tujuan latihan di sini adalah menguatkan otot stabilisator trunk, dan secara aktif mengurangi/mengoreksi kurva dan deformitas lain yang menyertai.

Ruang Gym untuk Penangganan Penderita Scoliosis

Latihan dapat dilakukan dengan atau tanpa alat, juga dapat dilakukan di dalam atau di luar spinal brace. Untuk lebih jelasnya lihat Buku Pegangan untuk Latihan di Rumah & Klinik "Terapy aman, melalui pengawasan dokter spesialis" dari Scoliosis Correction Clinic.

  • Latihan di Rumah
    • Latihan di luar brace
      • Penguatan otot abdominal
      • Penguatan otot thoracic & lumbar extensor
      • Penguatan hip extensor
    • Latihan di dalam brace
      • Penguatan otot abdominal dengan menggunakan brace
      • Penguatan otot thoracic & lumbar extensor dengan menggunakan brace
      • Penguatan hip exten dengan menggunakan brace
  • Latihan di klinik
    • Latihan dengan alat
      • Elongasi spine dengan cara bergantung pada stall bars
      • Elongasi spine dengan memakai invertion traction
    • Latihan tanpa alat Ketika melakukan stretching trunk, perlu sekali menstabilkan segmen spine di atas dan di bawah tempat stretching. Pasien dengan double curve harus distabilkan yang satu sebelum menstretching yang lain.
      • Latihan Peregangan sisi concave
      • Latihan elongasi trunk
      • Latihan peregangan otot leher, bahu atau hip
      • Latihan penguatan otot sisi convex
      • Latihan deep breathing untuk meningkatkan fungsi paru, Dapat dilakukan bersamaan dengan latihan penguatan abdominal, stretching trunk, dan saat stretching otot pectoralis
      • Latihan derotasi trunk, Sambil deep breathing exercise dan lateral fleksi trunk ( untuk meregangkan sisi concave ), disarankan melakukan derotasi vertebra
  • Yoga untuk Scoliosis Gerakan yoga untuk penderita scoliosis ditujukan untuk mengoreksi dengan cara menarik dan mengarahkan tulang belakang secara tepat, ke depan, samping kiri, dan samping kanan serta ditujukan untuk menarik dan mengembalikan tulang belakang pada posisinya yang alami (Bukan lurus melainkan ada lengkungannya).

Dalam menentukan terapi penderita scoliosis tidak bisa menerapkan sembarang gerakan yoga, tanpa melalui tahapan observasi terlebih dulu dengan melihat hasil X-ray untuk mengetahui derajat keparahannya. Ada kalanya dalam beberapa kasus harus dibahas dengan seorang ahli tulang belakang atau Dokter Spesialis Orthopedi.

Dalam memandu gerakan pun tidak boleh dipaksakan, karena semua gerakan merupakan bagian dari observasi. Dari keterbatasan gerak yang dilakukan penderita scoliosis, yang sedikit demi sedikit akan dievaluasi untuk menentukan ketepatan gerak serta alat bantu terapi bagi pasien.

Menurut Elise B. Miller, ahli yoga, dalam tulisannya di situs Yoga for teens with Scoliosis, latihan gerakan yoga (asana) ditujukan untuk memperbaiki postur dan meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot, dengan cara menarik dan memperkuat otot-otot yang menunjang tulang belakang. Posisi Adho Mukha Svanasana dan Urdhva Mukha Svanasana baik untuk membentuk dan memperbaiki lengkungan dan rotasi tulang belakang. Sedangkan Bharadvajasana untuk memperkuat kaki sebagai penyangga tulang belakang.

Penangganan Scoliosis dengan Massage

Massage adalah stimulasi mekanik soft tissue secara sistematik, dengan mana diberikan tekanan dan stretching secara ritmik dengan tujuan terapi. Efek fisiologis massage adalah mekanikal ( seperti meningkatkan venous return dan drainage limfatik, mengurangi adesi dan melunakkan scar, mencairkan secret ) ataupun refleksif ( seperti meningkatkan sirkulasi via reflek vasodilatasi, relaksasi general dan efek sedasi, meningkatkan perspirasi, mengurangi nyeri ), selain itu sentuhan tangan juga mempunyai efek psikologis dan dapat memperbaiki kenyamanan tubuh.

Kontra indikasi massage seperti inflamasi akut kulit, soft tissue, atau sendi karena infeksi ( plebitis, cellulitis, sinovitis, abses, septik artritis ) , luka terbuka, luka bakar, nerve entrapments ( CTS, dll ), bursitis, RA, Gout artritis, reumatik fibrosis, pannikulitis, ( subcutaneous fat inflamation ), arteriosceloris, venous thrombosis atau emboli, varicose vein berat, gg pembekuan darah, fraktur, dan keganasan.

Alat-alat yang diperlukan antara lain lubrikan, seperti minyak massage, baby oil, dan tempat tidur yang cukup padat ( firm ).
Bentuk massage yang digunakan untuk penderita scoliosis adalah effleurage , stripping, friction, dan traction.

Effleurage : stroking ringan untuk menghangatkan area sehingga siap untuk teknik yang lebih dalam. Dengan tangan dilakukan stroke ringan tapi mantap mulai dari bawah ke atas menuju puncak leher . Selalu stroke ke arah jantung, karena kearah inilah darah mengalir. Arah lain akan merusak vena. Kemudian secara ringan bawa tangan ke bawah melalui tepi punggung, pertahankan sentuhan tapi jangan menekan. Ulangi teknik ini sampai seluruh punggung termasssage. Lakukan selama beberapa menit, secara bertahap tambah tekanan pada stroke ke atas.

Stripping otot : untuk memberikan tekanan lebih dalam, sehingga darah teralirkan sepanjang otot. Dengan ibu jari tangan kanan untuk sisi kiri , berikan tekanan yang lebih dalam dari bawah scapula menuju puncak leher. Lakukan gerakan dengan pelan tapi pasti, agar struktur otot dapat terasakan dengan baik. Lakukan teknik yang sama untuk otot trapezius. Lakukan selama beberapa menit.

Friction otot : Lakukan friksi kecil-kecil ke atas dan ke bawah sepanjang spine, pada otot yang tight, otot dengan benjolan spasme, dan utamakan sisi yang terasa sakit. Ada dua macam friksi yaitu sirkuler dan tranversal .Lakukan selama beberapa menit.

Traksi leher : bertujuan relaksasi dan mengurangi nyeri daerah leher. Dengan satu tangan menyangga leher, lakukan tarikan dengan tangan yang lain pada dagu penderita.

Finishing off : terapis dapat mengakhiri sesi ini dengan kembali melakukan effeurage, sehingga seluruh sesi ini menghabiskan waktu sekitar 20 menit . Massage pada scoliosis secara khusus dapat diikuti di Buku Pegangan untuk Latihan di Rumah & Klinik yang diterbitkan oleh Scoliosis Correction Clinik dengan penjelasan ringkas sebagai berikut :

    1. Pendahuluan
    2. Lordotik
    3. Kifotik
    4. Scoliosis balance massage : dengan teknik effleurage dari arah spine ke luar. Tekan sisi convex lebih keras daripada sisi concave.
    5. Massage untuk relaksasi sisi concave : dengan teknik effleurage dari bawah ke atas di tepi spine.
    6. Massage untuk sisi convex dengan teknik Push down : jangan lupa memberikan tekanan setempat.
    7. Massage untuk sisi convex dengan teknik Pushing out : dari tepi spine ke luar
    8. Massage untuk sisi concave dengan teknik Press Stretch : dari tengah ke atas dan bawah. Dapat digunakan phalank proximal secara keseluruhan atau gunakan jari-jari pada sebagian area.
    9. Scoliosis scapula massageuntuk sisi convex : tangan kiri memfiksasi scapula, tangan kanan merotasi bahu bertahap mulai di abduksi 90 derajat.
    10. Cross fiber friction sisi convex : bisa dilakukan dengan ujung-ujung jari atau 2 ibu jari.
    11. Kesimpulan

Penangganan Scoliosis dengan Modalitas

Traksi

Ada beberapa macam traksi yang dapat digunakan seperti :

    • Traksi biasa baik dengan mesin ( lumbal & cervical ) ataupun tanpa mesin ( inversion )
    • Cotrel traction : diberikan selama tidur malam dan beberapa jam siang. Setelah beberapa minggu traksi disertai latihan hasilnya dipertahankan dengan body cast selama beberapa minggu
    • Skeletal traction : umumnya diberikan selama 3 minggu pada pasien scoliosis berat sebelum dioperasi.


Traksi Lumbal & Cervical

Elektro Stimulasi

Diberikan stimulasi intermittent di sisi convex scoliosis pada paraspinal muscles dan/atau midaxillary line. Keberhasilan pemakaian ES untuk mengoreksi scoliosis ringan – sedang mencapai 80 % termasuk mengurangi resiko operasi. Pemberian ES malam hari selama tidur dikatakan sama efektifnya dengan spinal brace pada penderita scoliosis sedang. Peletakan pad pada ES adalah seperti pada gambar berikut :

Penangganan Scoliosis dengan Spinal Brace

Spinal Brace pada penderita Scoliosis berfungsi untuk mencegah progresifitas kurva ( keberhasilan 70 % ), memberikan koreksi yang permanen pada batas-batas tertentu ( keberhasilan 50 % ), dan menstabilkan kurva ( mempertahankan hasil latihan & modalitas ). Makin muda penderita dan makin kecil sudut kurvanya makin besar keberhasilan permakaian spinal brace.

Spinal Brace

Tergantung letak apex dibagi menjadi 2 macam yaitu Milwaukee untuk scoliosis dengan apex T8 ke atas, dan Boston untuk scoliosis dengan apex di bawah T8. Spinal brace disarankan dipakai 23 jam sehari . Selain scoliosis sedang, seringkali untuk scoliosis berat yang belum selesai pertumbuhannya/belum siap operasi perlu memakai spinal brace.

Operasi

Operasi adalah pilihan terakhir dan Dilakukan pada penderita scoliosis lebih dari 40 º /50 º, kurva yang tetap bertambah dengan terapi nonoperatif, secara kosmetik tidak dapat diterima, atau nyeri punggung yang hebat / mengganggu. Sebelum operasi sangat diperlukan terapi yang bertujuan memanjangkan ( elongasi ) spine dan sedapat mungkin mengurangi derajat kurva terutama untuk penderita dengan kurva sama dengan atau lebih dari 60 º.

Operasi yang dilakukan berupa spinal fusion dengan atau tanpa Harrington rod instrumentation. Setelah operasi penderita masih harus memakai body cast atau brace selama 6-12 bulan. Selama waktu itu latihan fisik yang dilakukan tidak boleh lebih berat dari berjalan.

Permainan bulutangkis sarat dengan berbagai kemampuan dan keterampilan gerak yang kompleks. Sepintas lalu dapat diamati bahwa pemain harus melakukan gerakan-gerakan seperti lari cepat, berhenti dengan tiba-tiba dan segera bergerak lagi, gerak meloncat, menjangkau, memutar badan dengan cepat, melakukan langkah lebar tanpa pernah kehilangan keseimbangan tubuh.

Gerakan-gerakan ini harus dilakukan berulangulang dan dalam tempo lama, selama pertandingan berlangsung. Akibat proses gerakan itu akan menghasilkan "kelelahan", yang akan berpengaruh langsung pada kerja jantung, paru-paru, sistem peredaran darah, pernapasan, kerja otot, danpersendian tubuh.

Karena itu, pebulutangkis sangat penting memiliki derajat kondisi fisik prima. Melalui proses pelatihan fisik yang terprogram baik, faktor-faktor tersebut dapat dikuasai. Dengan kata lain pebulutangkis harus memiliki kualitas kebugaran jasmani yang prima. Ini akan berdampak positif pada kebugaran mental, psikis, yang akhirnya berpengaruh langsung pada penampilan teknik bermain.

Itulah sebabnya pebulutangkis sangat membutuhkan kualitas kekuatan, daya tahan, fleksibilitas, kecepatan, agilitas, dan koordinasi gerak yang baik. Aspek-aspek tersebut sangat dibutuhkan agar mampu bergerak dan bereaksi untuk menjelajahi setiap sudut lapangan selama pertandingan.

A. Sistem Pelatihan Fisik Umum

Program dan aplikasi pelatihan fisik bulutangkis harus dirancang melalui tahapan sebagai berikut:

a. Persiapan fisik umum yang bertujuan meningkatkan kemampuan kerja organ tubuh, sehingga memudahkan upaya pembinaan dan peningkatan semua aspek pelatihan pada tahap berikutnya.

b. Persiapan fisik khusus bertujuan meningkatkan kemampuan fisik dan gerak yang lebih baik menuju pertandingan.

c. Peningkatan kemampuan kualitas gerak khusus pemain. Pada tahap ini pelatihan bertujuan untuk memahirkan gerakan kompleks dan harmonis yang dibutuhkan setiap pemain untuk menghadapi pertandingan.

Cara Terbaik untuk Mempersiapkan Kondisi Fisik Umum Pemain

1.Program Latihan Lari

Latihan lari sangat penting dan balk untuk mengasah kemampuan kerja jantung, paruparu, dan kekuatan tungkai. Membiasakan pemain berlatih lari selama 40-60 menit tanpa berhenti, yang dilakukan 3-4 kali seminggu, sangat baik untuk membina kemampuan daya tahan aerobik dan kebugaran umum pemain.

2. Program Latihan Senam

Bentuk-bentuk latihan senam peregangan untuk seluruh bagian tubuh dan persendian harus mendapat perhatian. Latihan peregangan hendaknya diselingi gerakan untuk memperkuat bagian tubuh bagian atas dan bawah yang dilakukan secara bergantian.

3.Program Latihan Loncat Tali

Latihan ini sangat balk untuk membina daya tahan, kelincahan kaki, dan kecepatan serta melatih kemampuan gerak pergelangan tangan lebih lentur dan kuat. Proses latihan dapat dilakukan de-ngan loncat satu kaki secara bergantian (seperti lari biasa), loncat dua kaki, dan masih banyak bentuk variasinya.

4. Program Latihan Gabungan

Model atau sistem pelatihan ini adalah menggunakan berbagai alat bantu seperti bangku, gawang ukuran kecil, tiang, tongkat, tali, bola, dan sebagainya. Tujuan latihan ini adalah membina dan meningkatkan kamampuan dan kete-rampilan gerak pemain sebagai upaya untuk pengkayaan gerak. Pelatih harus cermat dan terampil menciptakan rangkaian gerak yang ada hubungannya dengan gerakan-gerakan dalam permainan bulutangkis, di samping memberikan prioritas pada pembinaan aspek-aspek kelincahan, kegesitan, dan koordinasi gerak yang memang dibutuhkan dalam bulutangkis.

5.Latihan Pemanasan

Banyak pelatihan kurang memberikan perhatian khusus perihal peranan dan fungsi latihan pemanasan yang benar dan betul. Latihan pemanasan yang dikemas dengan benar akan memberikan pe-ngaruh positif pada proses kerja organ tubuh, mekanisme peredaran darah, dan pernapasan. Itu semua akan berpengaruh langsung untuk kerja berat selanjutnya. Di samping itu, sangat penting untuk menghindari terjadinya berbagai cedera otot, persendian, dan fungsi-fungsi tubuh lainnya.
Pada umumnya latihan pemanasan berbentuk:

a. Lari jarak pendek yang bervariasi seperti lari sambil angkat paha/lutut, lari mundur, lari maju dan ke samping.

b. Melakukan gerakan-gerakan senam yang bersifat mere-gang otot tungkai, paha belakang, depan, lengan, pergelangan kaki, pinggang, otot bahu, dll.

c. Kualitas peregangan harus dilakukan dengan pelan sampai terasa terjadi proses peregangan pada bagian otot dan persendian yang dilatih. Hindari melakukan gerakan sentak, yang dapat menyebabkan rasa sakit pada otot atau persendian.

6. Latihan Pendinginan

Latihan ini dilakukan setelah program latihan selesai dilaksanakan sebagai upaya agar bagian otot yang bekerja berat tadi kembali pada posisi rileks dan tidak kaku. Bentuk latihannya adalah senam dan gerakan meregang. Kualitas latihan meregang, khususnya untuk otot besar seperti paha belakang dan depan, ping-gang, punggung, otot lengan, bahu, dada, dan berbagai persendian tubuh, harus dicermati betul. Lakukan gerakan pendinginan ini dengan benar,

B. Sistem Pelatihan Fisik Khusus

Pelatihan fisik bulutangkis dituntut untuk memahami dan mengetahui secara spesifik kebutuhan gerak olahraga ini. Bahkan harus mendalami makna proses kerja otot, sistem energi, dan mekanisme gerak yang terjadi dalam permainan bulutangkis. Atas dasar pengetahuan ini, pelatih akan mampu merancang bentuk-bentuk latihan fisik secara spesifik, sesuai kebutuhan pemain.

1.Latihan Daya Tahan (Aerobik dan Anaerobik)

Kemampuan daya tahan dan stamina dapat dikembangkan melalui kegiatan lari dan gerakan-gerakan lain yang memiliki nilai aerobik. Biasakan pemain menyenangi latihan lari selama 40-60 menit dengan kecepatan yang bervariasi. Tujuan latihan ini adalah meningkatkan kemampuan daya tahan aerobik dan daya tahan otot. Artinya, pemain dipacu untuk berlari dan bergerak dalam waktu lama dan tidak mengalami kelelahan yang berarti.

Selanjutnya proses latihan lari ini ditingkatkan kualitas frekuensi, intensitas, dan kecepatan, yang akan berpengaruh terjadinya proses anaerobik (stamina)pemain. Artinya, pemain itu mampu bergerak cepat dalam tempo lama dengan gerakan yang tetap konsisten dan harmonis.

2. Latihan Kekuatan

Pemain bulutangkis sangat membutuhkan aspek kekuatan. Berdasarkan analisis dan cukup dominan pemain melakukan gerakan-gerakan seperti meloncat ke depan, ke belakang, ke samping, memukul sambil loncat, melakukan langkah lebar dengan tiba-tiba. Semua gerak ini membutuhkan kekuatan otot dengan kualitas gerak yang efisien.
Cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan kekuatan ini adalah berlatih menggunakan beban atau dengan kata lain latihan beban (weight training). Sebaiknya sebelum melakukan program latihan beban sesungguhnya, disarankan agar pemain lebih dulu mengenal berbagai bentuk gerakan seperti:

-mendorong (push up, pull up)

-bangun tidur, angkat kaki

-memperkuat otot punggung, pinggang

- jongkok berdiri untuk membina kekuatan tungkai - loncat-loncat di

tempat atau sambil bergerak.

Proses selanjutnya adalah meningkatkan kualitas geraknya dengan menggunakan beban (weight training) yang sebenarnya. Dianjurkan untuk tidak melakukan atau berlatih loncat di tempat yang keras karena akan berdampak terjadinya sakit, cedera pada bagian lutut, dan pinggang.

3. Latihan Kecepatan

Aspek kecepatan dalam bulutangkis sangat penting. Pemain harus bergerak dengan cepat untuk menutup setiap sudut-sudut lapangan sambil menjangkau atau memukul kok dengan cepat.
Cara untuk bergerak cepat adalah melatih kecepatan tungkai/kaki. Aspek kecepatan dalam bulutangkis juga bermakna pemain harus cekatan dalam mengubah arah gerak dengan tiba-tiba, tanpa kehilangan momen keseimbangan tubuh (agilitas). Bentuk-bentuk latihannya antara lain:

a. Lari cepat dalam jarak dekat

b. Lari bolak-balik, jarak enam meter (shuttle run)

c. Tingkatkan kualitas latihan dengan menggunakan beban, rintangan, dan lain-lain.

d. Jongkok-berdiri dan diikuti lari cepat dalam jarak dekat pula.

5. Latihan Kelenturan/Fleksibilitas

Fleksibilitas adalah komponen kesegaran jasmani yang sangat penting dikuasi oleh setiap pemain bulutangkis. Dengan karakteristik gerak serba cepat, kuat, luwes namun tetap bertenaga, pembinaan kelenturan tubuh harus mendapat perhatian khusus.

Latihan fleksibilitas harus mendapat porsi yang cukup. Orang yang kurang lentur rentan mengalami cedera di bagian otot dan daerah persendian. Di samping itu, gerakannya cenderung kaku sehingga banyak menggunakan energi, kurang harmonis, kurang rileks, dan tidak efisien.
Latihan-latihan peregangan dengan kualitas gerakan yang benar memacu komponen otot dan persendian mengalami peregangan yang optimal. Oleh karena itu, fleksibilitas ini harus dilatih dengan tekun dan sistematis.

6. Model-Model Latihan Fisik dengan Menggunakan Alat Bantu Pelatihan

a. Latihan denganBola Medisin

Bola medisin yang beratnya bervariasi antara 1-5 kilogram merupakan alat bantu pelatihan, antara lain untuk kekuatan dan kecepatan melempar, membina kekuatan lengan, tungkai, dan kekuatan bagian atas dan bawah tubuh.

Bentuk latihan bola medisin ini antara lain dilakukan dengan melempar ke arah tembok dengan satu atau dengan dua lengan. Berdiri kira-kira 3-4 meter dari tembok, lalu lempar bola itu dan segera tangkap bola tersebut sambil lari mundur ke arah garis start, seperti layaknya gerak mundur dalam permainan bulutangkis.

b. Latihan Loncat Tali

Pemain bulutangkis dianjurkan untuk terampil dan menguasai bentuk latihan loncat tali ini. Pengaruh latihan ini sangat membantu untuk membina kekuatan kaki, pergelangan kaki, daya tahan, koordinasi gerak, dan membantu peningkatan kualitas gerak pergelangan tangan.
Latihan loncat tali dirancang dengan sistem interval antara lain sebagai berikut:

• Sesi I: • Sesi H:

1. 3 X 30 detik 1.5 X 25 detik
2. 5 X 25 detik 2. 7 X 20 detik
3. 7 X 20 detik 3. 5 X 30 detik
4. 3 X 30 detik 4. 3 X 40 detik

Masa istirahat antara kegiatan adalah 15-20 detik. Tingkatkan latihan ini dengan menambah jumlah sesi, waktu kegiatan masa istirahat diperpendek. Dalam aplikasi latihan loncat tali, pelatih harus berperan memberikan motivasi dan pengawasan gerak loncat, sehingga tujuan latihan tercapai dengan optimal.

c. Latihan Bayangan

Latihan ini berfungsi untuk meningkatkan kemampuan gerak kaki, kecepatan, serta daya tahan. Latihan ini dapat dijadikan sebagai program khusus, rutin bagi pemain agar langkah dan gerakan kaki (footwork) senantiasa ditingkatkan dan dipelihara terus.
Untuk meningkatkan kualitas latihan ini, pemain harus menggunakan "jaket pemberat" yang dibuat khusus untuk itu. Sangat balk untuk membina kualitas dan kecepatan gerak pemain.

d.Latihan Loncat Bangku/Gawang

Latihan ini berfungsi untuk membina kekuatan tungkai, konsentrasi, dan kecepatan gerak yang dibutuhkan dalam permainan. Bangku atau gawang dibuat dengan berbagai ukuran tinggi antara lain 40, 50, 70, 80 cm. Alat ini berfungsi sebagai alat pemberat, rintangan, tantangan, agar pemain terpacu untuk mengatasinya. Proses kerja "overload' (beban lebih) dengan menggunakan beban rintangan ini, latihan makin terasa berat bagi pemain. Dalam pelaksanaan latihan, pelatih harus terampil meletakkan gawang/bangku itu sesuai dengan tujuan latihan dan kebutuhan pemain.