Selasa, 20 April 2010

ICA/SAE Paket Bahan Pelatihan bagi Instruktur

Nama : Ermalia Windasari

Kelas : 3DB01

NPM : 32107146

Materi : Pelatihan Personnel (pelatihan dengan instruksi )

ICA/SAE Paket Bahan Pelatihan bagi Instruktur

Paket pelatihan ini ditujukan untuk setiap orang yang menginginkan beberapa pedoman atau petunjuk dalam perencanaan, pengorganisasian, dan penyampaian pelatihan yang efektif baik untuk profesi maupun staf pendukung apapun pekerjaan atau lingkungan pembelajaran mereka. Kumpulan paket ini memberikan berbagai teknik untuk menyampaikan pelatihan serta juga meliputi tugas-tugas praktek administratif yang penting untuk menyukseskan kursus-kursus pelatihan dan yang mendukung isi pelatihan.

Paket Pelatihan untuk Instruktur Pelatihan adalah Rencana Jangka Menengah dari Panitia Pengarah ICA/SAE (Section on Archival Education and Training dari ICA) Tahun 2000-2004. Margaret Crockett dan Janet Foster adalah konsultan manajemen arsip dinamis dan statis yang bermukim di Inggris. Mereka sudah menyampaikan pelatihan di Mongolia, Estonia, Latvia, Malta, dan Hungaria serta melakukan program pelatihan yang sedang berjalan untuk staf pada semua tingkatan yang bekerja di lembaga kearsipan, layanan informasi dan manajemen arsip dinamis di Inggris.

Persiapan Calon TKI Jadi Prioritas

JAKARTA (Suara Karya) Kalangan asosiasi pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS), seperti Asosiasi Perusahaan Jasa TKI (Apjati), Himpunan Pengusaha Jasa TKI (Himsataki), dan Indonesia Development Employee Association (idEA) melaksanakan kegiatan peningkatan kompetensi instruktur di balai latihan kerja luar negeri (BLKLN). Kegiatan yang dilaksanakan pada 12-15 April 2010 ini bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Ditjen Binalattas Kemennakertrans).

Seperti diketahui, program peningkatan kualitas calon TKI melalui pelatihan berbasis kompetensi, khu-susnys tujuan Timur Tengah (Timteng), sudah digulirkan sejak 16 November 2009 oleh Mennakertrans Muhaimin Iskandar. Dalam hal ini, program pelatihan sesuai standar minimal 200 jam ini sudah berlangsung selama enam bulan.

Ketua Umum IdEA Adrie Nelwan mengatakan, program pelatihan berstandar ini dirancang dan dilaksanakan dengan melibatkan pakar serta pemangku kepentingan lainnya (stakeholder). Ini sekaligus menunjukkan komitmen dan keinginan untuk meningkatkan penempatan TKI berkualitas. "Dari analisis dan masukan yang ada, disim-pulkan bahwa salah satu penyebab banyaknya TKI bermasalah karena minimnya persiapan di dalam negeri. Seharusnya selain pelatihan berbasis kompetensi, juga disiapkan mental dan pengetahuan budaya setempat bagi calon TKI sebelum ditempatkan ke negara tujuan," katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Karena itu, asosiasi PPTKIS yang ada mengambil langkah strategis seba- gai upaya perbaikan dan mencakup segala lini. Ini dilaksanakan bekerja sama dengan instansi petrierin-tah terkait. Khusus untuk calon TKI, dilakukan perbaikan program pelatihan dengan pendekatan atau berbasis kompetensi pola 200 jam. Sementara untuk TKI yang sudah berpengalaman cukup dengan pelatihan 100 jam.

"Program asosiasi PPTKIS ini merupakan langkah nyata untuk meningkatkan kualitas calon TKI. Ini akan membantu PPTKIS dalam menempatkan TKI, tentunya yang terlatih dan memiliki kompetensi. Terdapat proses pengujian dan sertifikasi dari LSP (lembaga sertifikasi profesi)," tutur Adrie. Asosiasi PPTKIS juga berinisiatif membantu pemerintah dalam rangka memenuhi instruktur BLKLN yang sesuai standar sehingga bisa melaksanakan pelatihan berbasis kompetensi. Apalagi instruktur merupakan ujung tombak untuk menelurkan calon TKI yang berkualitas. "Pelaksanaan pelatihan untuk instruktur BLKLN merupakan langkah strategis yang diusung Apjati, Himsataki, dan IdEA. Sudah saatnya kita hentikan ber-wacana, dan melakukan tindakan nyata," ujarnya.
Kesiapan Lebih jauh Adrie menjelaskan, instruktur di BLKLN berperan besar dalam meningkatkan kualitas calon TKI. Selain itu juga bisa menyampaikan informasi seputar pekerjaan, memberikan motivasi, sekaligus kawan berbagi rasa bagi calon TKI selama latihan di BLKLN. Dengan kata lain, instruktur juga merupakan sosok yang dapat mendeteksi secara dini kesiapan calon TKI untuk bekerja serta menyaring calon TKI yang memang layak untuk ditempatkan.

"Tanggung jawab instruktur cukup besar. Untuk itu, peran instruktur tidak bisa diabaikan dan eksistensinya bukan hanya sekadar pelengkap operasional BLKLN. Pelatihan tanpa metodologi yang benar atau hanya sekadar formalitas, sama saja menghilangkan hak calon TKI. Kita prihatin bila ada PPTKIS yang tidak melatih calon TKI-nya secara benar demi keuntungan pribadi. Pemerintah harus tegas menindak oknum PPTKIS yang melanggar ketentuan pelatihan bagi calon TKI ini," ucap Adrie.

Peran asosiasi PPTKIS,lanjutnya, sangat strategis dalam menyosialisasikan sistem pelatihan berbasis kompetensi yang sesuai ketentuan pemerintah. Ini termasuk program pelatihan untuk instruktur yang juga mendapatkan apresiasi dari agen tenaga kerja asing (TKA) di Arab Saudi, Sanarcom. Secara bersamaan juga telah diterbitkan buku pegangan pelatihan untuk BLKLN.

"Asosiasi PPTKIS mengapresiasi Ditjen Binalattas Kemennakertrans yang mendukung penuh pelaksanaan pelatihan untuk instruktur, khususnya dalam menyusun program pelatihan sesuai standar," katanya-Terkait pelatihan untuk instruktur ini, Dirjen Binalattas Kemennakertrans Masri Hasyar mengatakan, pemerintah akan terus mendukung upaya dari asosiasi PPTKIS dalam rangka memperbaiki kualitas calon TKI yang akan ditempatkan ke luar negeri. Apalagi alokasi anggaran untuk pelatihan instruktur di Kemennakertrans belum ada, meski kebutuhannya sangat mendesak. Dalam hal ini, asosiasi PPTKIS berinisiatif melaksanakan program pelatihan instruktur untuk kepentingan para anggotanya.

Pada 2009, sedikitnya 120 orang instruktur dari pemerintah sudah dilatih untuk memperbaiki kompetensi calon TKI, namun tidak berlanjut untuk 2010ini.

Nama : Ermalia Windasari

Kelas : 3DB01

NPM : 32107146

Materi : Pelatihan Personnel (Pelatihan dengan instruksi )

INSTRUKTUR PELATIHAN JAMA’AH MASJID

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 16:125, An Nahl)

Pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh Pengurus Ta’mir Masjid perlu didukung Instruktur (instructor) atau pelatih (trainer) yang berkualitas dan memiliki komitmen Islam yang kuat. Para Instruktur, baik itu Pembicara atau Pemandu, adalah sosok yang sangat berperan besar dalam setiap penyelenggaraan pelatihan, karena sangat mempengaruhi proses belajar-mengajar di dalam forum tersebut.

Di luar pelatihan, para Instruktur sering dianggap sebagai pemimpin informal dalam komunitas umat, tempat para jama’ah bertanya dan mendiskusikan masalah-masalah yang ingin mereka ketahui.

PENGERTIAN

Instruktur adalah seseorang yang bertugas melakukan pembinaan terhadap peserta dalam forum pelatihan. Pembinaan dilakukan dengan melakukan transfer pengetahuan dan nilai-nilai Islam dalam suasana yang kondusif dan penuh rasa tanggungjawab. Dalam sistim pelatihan jama’ah Masjid, Instruktur terdiiri dari:

1. Instruktur Pembicara.

Adalah Instruktur yang menyampaikan materi pelatihan kepada para peserta secara langsung dengan metode penyampaian yang tertentu. Pembicara berusaha untuk melakukan transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam serta berupaya memahamkannya kepada peserta sejelas-jelasnya.

2. Instruktur Pemandu.

Adalah Instruktur yang memandu acara penyampaian materi pelatihan kepada para peserta serta melakukan pengaturan proses belajar-mengajar di dalam pelatihan tersebut. Pemandu berusaha untuk mengantarkan peserta guna memahami materi pelatihan yang akan, sedang dan telah disampaikan oleh Pembicara.

Pada kenyataannya seorang Instruktur dapat berperan sebagai Pembicara maupun Pemandu pelatihan. Mereka dituntut untuk dapat memainkan peran tersebut secara profesional serta memiliki kualitas yang dapat diandalkan.

AKTIVITAS DALAM PELATIHAN

Beberapa aktivitas yang dilakukan Instruktur antara lain adalah:

a. Menyiapkan makalah.

b. Menyampaikan materi.

c. Memahamkan peserta.

d. Melakukan evaluasi.

e. Mengatur jalannya pelatihan.

f. Membuat dan menyampaikan laporan pelatihan.

Secara spesifik, aktivitas mereka adalah:

Instruktur Pembicara.

1. Mempersiapkan materi secara tertulis dalam bentuk makalah.

2. Menyampaikan materi pelatihan sesuai temanya.

3. Menjaga waktu penyampaian materi.

4. Memberi kesempatan tanya jawab dan dialog.

Instruktur Pemandu.

1.Menjaga ketertiban forum pelatihan.

2.Mengarahkan peserta menuju moral Islam.

3.Membimbing peserta memasuki tema materi yang akan disampaikan.

4.Mempersilahkan dan mengakhiri Pembicara menyampaikan materi.

5.Memberi kesempatan peserta untuk bertanya.

6.Mengatur lalu lintas pembicaraan.

7.Mengelola waktu pelatihan agar sesuai dengan jadwal.

8.Melakukan evaluasi pelatihan.

9.Melaporkan hasil-hasil pelatihan.

SPESIALISASI INSTRUKTUR

Pada dasarnya materi pelatihan yang disampaikan Instruktur dapat diklasifikasikan dalam materi keislaman, keilmuan, kemasjidan dan keterampilan. Pembagian ini tidak kaku, akan tetapi dapat membantu para Instruktur dalam mengambil spesialisasinya.

Kita tahu, bahwa sangat sulit bagi seorang Instruktur untuk dapat menguasai seluruh materi pelatihan secara terperinci, karena itu perlu spesialisasi dalam penguasaan materi pelatihan.

Spesialisasi dilakukan dengan mengambil satu atau beberapa materi yang mampu dikuasai oleh seorang Instruktur. Spesialisasi mendorong para instruktur untuk lebih profesional dalam menangani pelatihan, khususnya dalam penguasaan dan penyampaian materi pelatihan yang menjadi keahliannya.

Diharapkan para Instruktur dapat berperan secara optimal sesuai latar belakang pendidikan dan keahliannya. Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk melakukan kajian dan pengembangan lintas disiplin pendidikan, sehingga tidak terbelenggu dalam formalitas yang kaku.

KORPS INSTRUKTUR

Para Instruktur disatukan dalam lembaga yang disebut Korps Instruktur. Lembaga ini beranggotakan para jama’ah yang telah mengikuti Training of Trainers (TOT). Mereka disatukan persepsinya dan ditingkatkan kemampuannya dalam mengelola pelatihan yang diselenggarakan Pengurus Ta’mir Masjid. Beberapa aktivitas Korps Instruktur, antara lain:

a. Membina para Instruktur dengan berbagai aktivitas pendukung sistim pelatihan.

b. Melakukan pengkajian materi-materi pelatihan dan konstitusi organisasi Ta’mir Masjid.

c.Menyamakan persepsi para instruktur dalam mengelola pelatihan.

d.Memberi Surat Mandat kepada anggotanya untuk mengelola suatu pelatihan.

PERAN INSTRUKTUR DALAM JAMA’AH

Instruktur merupakan pribadi pilihan yang diharapkan mampu berperan dalam kehidupan organisasi, terutama sebagai guru (ustadz) dan pemimpin informal. Peran tersebut dapat direalisasikan di dalam maupun di luar pelatihan. Sebagai guru (ustadz), diharapkan Instruktur mampu memahami, mengimplementasikan dan mengajarkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam kepada para jama’ah. Mereka menjadi sosok tempat bertanya, figur panutan dan dianggap orang-orang yang memahami di bidang spesialisasinya.

Karena itu, para Instruktur dituntut untuk mampu mendidik dirinya sendiri dan para jama’ah agar selalu berada di jalan yang lurus (shiratal mustaqim). Sebagai pemimpin informal, diharapkan Instruktur mampu berperan sebagaimana layaknya pemimpin, yang dalam bahasa orang bijak dikatakan: “di depan memberi contoh, di tengah mebangun kinerja dan di belakang memberi dukungan“. Mereka dituntut untuk mampu berperan aktif dalam memotivasi, menjaga ukhuwah islamiyah dan memberikan solusi dalam permasalahan-permasalahan yang dihadapi organisasi maupun jama’ah. Mereka juga diharapkan menjadi figur pelopor dalam menjaga nilai-nilai Islam serta dalam ber’amar ma’ruf nahi munkar.

ETIKA INSTRUKTUR

Sebagai aktivis Masjid yang berperan dalam pembinaan jama’ah melalui interaksi pelatihan, para instruktur dituntut memiliki etika yang menjadi norma baku. Etika ini menjadi code of conduct bagi mereka dalam berinteraksi dengan jama’ah, baik dalam mengelola pelatihan maupun dalam kehidupan berjama’ah, di antaranya:

a. Mengelola pelatihan berdasarkan nilai-nilai syari’at Islam yang bersumber dari Al Quraan dan Al Hadits.

b. Melaksanakan tugas dengan berpedoman konstitusi organisasi maupun petunjuk-petunjuk pelaksanaan organisasi Ta’mir Masjid lainnya.

c. Melakukan transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam dengan berorientasi pada kebenaran dan tetap menghormati peserta.

d. Menjaga nama baik dan mengikuti perkembangan organisasi Ta’mir Masjid.

e.Meningkatkan kemampuan diri pribadi dan jama’ah.

f. Senantiasa berusaha untuk meningkatkan iman, ilmu dan amal shalihnya.

g. Bersikap terbuka terhadap nasehat untuk perbaikan diri dan agamanya.

h. Berupaya menjalin silaturrahmi dan ukhuwah islamiyah di antara jama’ah dan umat Islam pada umumnya.

i. Berusaha menjaga dan memperbaiki hablumminallah dan hablumminannas dengan baik.

Penilaian pelatihan Kuis online (Penilaian pelatihan pra-instruktur)

Setelah kandidat memenuhi kriteria minimum dan disetujui oleh sekolah terkait dan Dikmenjur, kandidat akan diberikan URL untuk mengakses kuis pra-penilaian.

Kandidat diharuskan untuk mengikuti kuis terlebih dahulu sebelum mendaftar ke pelatihan instruktur. Untuk itu kandidat dihimbau untuk membaca dengan seksama instruksi terkait dan memastikan bahwa semua kolom telah terisi. Hal ini sangat penting bagi registrasi instruktur.

Kandidat yang mengikuti kuis juga harus mengikuti penilaian tersebut dalam kondisi:

  • Dalam tes
  • Tidak dibantu orang lain dalam penyelesaiannya

Setelah mengikuti kuis dan lulus, informasi mengenai kandidat akan disimpan dan kandidat akan diregistrasi secara otomatis untuk pelatihan instruktur.

Proses:

Setelah kuis selesai

Begitu SMK terkait memenuhi semua informasi yang dibutuhkan seperti yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan, mereka akan menerima URL untuk mengikuti kuis online atau penilaian pelatihan prs-instruktur. Kandidat yang telah dinominasikan untuk pelatihan instruktur harus mengikuti kuis tersebut dan lulus dengan nilai minimum 70%.

Setelah kandidat menyelesaikan dan lulus, data-data mereka dikirim ke akademi regional untuk didaftarkan di pelatihan instruktur. Akademi regional lalu menyimpan semua informasi mengenai kandidat. Setelah itu kandidat menerima pemberitahuan bahwa mereka telah terdaftar untuk pelatihan instruktur, beserta informasi lokasinya di akademi regional. Sementara itu akademi regional akan menyiapkan SMK Anda untuk menjadi salah satu Cisco Networking Academy, menyelenggarakan kurikulum 'IT Essential 1' dan mendaftarkan kandidat yang lulus untuk pelatihan instruktur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar