Selasa, 20 April 2010

PELATIHAN PERSONNEL TNI AD

Nama : Ermalia Windasari

Kelas : 3DB01

NPM : 32107146

Materi : Pelatihan Personnel

PELATIHAN PERSONNEL TNI AD

Setelah bangsa Indonesia mengakhiri masa perjuangan fisik bersenjata, semakin dirasakan kebutuhan adanya angkatan perang yang kuat dan modern guna mempertahankan kedaulatan dan menegakkan cita-cita kemerdekaan.

Atas dasar pemikiran strategis tersebut maka melalui surat keputusan Kasad Nomor : 44/KSAD/KPTS/51 Tanggal 17 Maret 1951, dibentuk suatu Komisi Perencana Pendidikan Angkatan Darat yang bertugas mengkoordinasikan pelaksanaan itu diseluruh lembaga pendidikan Angkatan Darat. Mengikuti perkembangan yang terjadi, nama SSKAD berubah menjadi Seskoad sejak Tanggal 2 Januari 1961 s.d. sekarang, dengan tidak mengubah peranan serta fungsi Seskoad, baik sebagai lembaga pendidikan tertinggi di lingkungan TNI AD maupun sebagai lembaga pengkajian.

Berdasarkan keputusan KSAD Nomor : 95/KSAD/KPTS/1951 pada Tanggal 25 Mei 1951 sebagai komandan SSKAD pertama ditugasi Letkol Maryadi yang pada waktu itu menjabat juga sebagai Komandan Korps MBAD, dengan menempati gedung kuliah di Cililitan Jakarta.

Selanjutnya sejak Tanggal 17 Pebruari 1953, Presiden RI Ir Soekarno meresmikan gedung SSKAD dengan nama “Grha Wiyata Yudha” beralamat di jalan Papandayan yang sekarang jalan Gatot Subroto No. 96 Bandung.

Tugas pokok SSKAD mendidik para perwira TNI AD, yang akan diarahkan untuk menduduki jabatan staf umum dan komando Satuan operasional tingkat komando, serta tingkat resimen tim pertempuran ke atas.

Periode 1951 – 1958.

Kursus SSKAD angkatan pertama dibuka pada Tanggal 17 November 1951 oleh wakil Presiden Republik Indonesia drs. Moch. Hatta dengan peserta 26 orang siswa berpangkat kapten dan mayor. Dalam kurikulum SSKAD ada dua jenis pendidikan yaitu kursus taraf I dan II namun pada periode ini kursus taraf I baru dapat dilaksanakan.

Tugas dan fungsi SSKAD belum mantap dan masih mencari bentuk, program pendidikan yang dilaksanakan masih bersifat peralihan, jenis kurikulum yang diberikan meliputi : kursus ilmu perang, kursus komandan resimen tim pertempuran, kursus persamaan Danyon dan kursus lain-lain yang bersifat gabungan kecabangan dan dinas.

Komandan SSKAD pada periode ini adalah Letkol Inf Maryadi, Letkol Inf AJ. Mokoginta dan Kolonel Latief Hendraningrat.

Periode 1958 – 1961.

Situasi politik nasional pada periode ini membuat masalah sospol menjadi perhatian dari pimpinan TNI AD sejalan dengan perkembangan organisasi angkatan bersenjata dan situasi politik nasional, maka sejak tahun 1959 tugas dan fungsi SSKAD diperluas dan diberi tugas tambahan menyelenggarakan kursus orientasi masalah pertahanan, dengan peserta kursus terdiri dari para perwira TNI AD dan angkatan lain serta para pejabat lingkungan departemen dan instansi non militer.

Pada periode ini, untuk pertama kalinya diadakan seminar yang membahas masalah pertahanan I, serta perubahan nama SSKAD menjadi Seskoad yang tetap digunakan sampai dengan sekarang. Komandan Seskoad pada periode ini adalah Kolonel Inf Latief Hendraningrat dan Kolonel Inf Suadi Suromihardjo.

Periode 1961 – 1973.

Periode ini ditandai dengan berbagai peristiwa politik yang berskala nasional, regional maupun internasional yang melibatkan ABRI/TNI AD. Mengantisipasi hal ini, Seskoad melakukan berbagai seminar untuk kepentingan ABRI dan nasional. Setelah peristiwa G. 30 S/PKI pada tahun 1966, Seskoad mengadakan seminar Angkatan Darat II. Seminar ini merupakan tonggak sejarah bagi pengabdian TNI AD dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab selain menghasilkan doktrin perjuangan AD Tri Ubaya Cakti, seminar ini berhasil mewujudkan strategi idealisme antar komponen orde baru di dalam dan di luar TNI AD untuk memperjuangkan dimulainya era pembangunan nasional. Hasil seminar Angkatan Darat II ini kemudian diakui sebagai sumber pokok kebijaksanaan pemerintah orde baru, terutama di bidang sosial politik dan ekonomi.

Sejak tahun 1964 Seskoad telah menerima pasis dari mancanegara, sementara itu banyak perwira alumni Seskoad yang melakukan studi perbandingan di negara-negara sahabat. Pada masa komandan Seskoad Mayjen TNI Soetanto pada tahun 1972 atas prestasinya, Seskoad dianugerahi P arasamnya Purna Karya Nugraha oleh bapak Presiden RI.Para komandan Seskoad pada periode ini ialah Brigjen TNI Soedirman, Mayjen TNI soewarto (digelari bapak Seskoad), Mayjen TNI S. Tjakradipura dan Mayjen TNI Soetanto W.

Periode 1974 – 1984.

Dalam rangka reorganisasi integrasi ABRI, maka sejak tahun 1974, berdasarkan keputusan Menhankam/Pangab Nomor : Kep/A/VII/1974, lembaga pendidikan Sesko Angkatan/Polri, bernaung di bawah pengendalian sesko ABRI yaitu pendidikan tahap I tingkat Angkatan/Polri lingkup kematraan; sedangkan tahap II (lanjutan) dilaksanakan di Seskogab dengan lingkup materi antar matra dan antar angkatan (gabungan). Selama periode ini telah berhasil dididik 12 angkatan, Susreg Seskoad Angkatan I s.d. XII.

Sesuai dengan kebutuhan, sejak tahun 1982 Seskoad menyelenggarakan pula Sumin (Kursus Staf Umum Administrasi) sebanyak 7 angkatan yang berlangsung hingga tahun 1988 dan dilaksanakan pula Kursus Staf Umum Jurusan Tehnik (Sumin), sebanyak 4 angkatan. Memasuki tahun 1988 SunikK dan Sumin dihapuskan dan pendidikan dikembalikan pada satu jurusan yakni Susreg Seskoad.

Dalam rangka memantapkan integritas ABRI sejak tahun 1974 hingga sekarang, dilaksanakan pula Program Kegiatan Bersama (PKB) antar sesko angkatan dan Polri, guna mengkaji masalah-masalah operasi gabungan, nilai kejuangan dan olah raga bersama. Komandan Seskoad pada periode ini ialah : Brigjen TNI Yogi Supardi, Brigjen TNI E.W.P Tambunan, Mayjen TNI Bambang Triantoro dan Mayjen TNI Sumitro.

Periode 1984 – 1998.

Selama dekade 80-an, organisasi Seskoad mengalami dua kali perubahan. Pertama , Pada tahun 1985 sebagai tindak lanjut dari organisasi TNI AD, maka berdasarkan keputusan Kasad, Seskoad berada di bawah pembinaan Kasad. Kedua , sesuai keputusan Kasad Nomor : kep/14/ii/1989 Tanggal 21 Pebruari 1989 yang berlaku hingga saat kini, struktur organisasi Seskoad ditetapkan dengan unsur pembantu pimpinan terdiri dari 3 staf direktur, staf ahli, dewan dosen, dewan akademik dan pok pembantu sendiri. Sedangkan penanggung jawab pembina materi akademik dilaksanakan oleh 9 departemen. Sejak tahun 1984 pada tiap tahun ajaran dilakukan survei sosial di daerah tk. I oleh perwira siswa (pasis) dan dosen guna mengkaji masalah pembangunan. Tahun 1996 Seskoad mengadakan seminar TNI AD V yang hasilnya merupakan kerangka acuan GBHN bidang politik. komandan Seskoad pada periode ini ialah Mayjen TNI Theo Soemantri, Mayjen TNI Darwanto, Letjen TNI Feisal Tanjung, Mayjen TNI Herman Musakabe, Mayjen TNI E.E. Mangindaan dan Mayjen TNI Arifin Tarigan.

Periode 1998 – sekarang.

Dengan bergantinya kabinet orde baru kepada kabinet reformasi, Seskoad segera melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan paradigma baru peran TNI untuk mendukung terciptanya reformasi yang konstitusional melalui berbagai diskusi dan kajian-kajian untuk dijadikan sebagai bahan masukan bagi pimpinan TNI.

Komandan Seskoad pada periode ini adalah Mayjen TNI Afandi, Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah, Mayjen TNI Djoko Besariman, MM, Mayjen TNI Bibit Waluyo, Mayjen TNI Suadi Atma, S.Ip, Mayjen TNI William T. Da Costa, Mayjen TNI Syarifudin Tippe, S.Ip, M.Si. dan yang sekarang adalah Mayjen TNI Mochammad Sochib, S.E., M.B.A.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar